Thursday, 18 December 2014

GURU YANG IKHLAS = GURU YANG SMART
Ikhlas maupun tidak ikhlas seorang guru dalam mengajar tetap harus mengajar, namun perbedaannya adalah ketika guru itu tidak ikhlas dalam mengajar, maka tugas itu terasa berat buat dia, waktu terasa lama dan semua terasa lambat, dan materi yang disampaikanya terasa sulit, bagi dia saja sudah terasa sulit apalagi bagi muridnya. Bedakan dengan guru yang ikhlas dalam mengajar, semua terasa ringan dalam mengajar, materi yang disampaikan terasa mudah, senyum di wajahnya terasa teduh, membuat murid merasa nyaman, dan senang, sehingga materi yang disampaikan terasa mudah diserap oleh murid-muridnya, sehingga jangan heran guru yang ikhlas mempunyai daya gugah dan ubah yang dahsyat. Jika ditinjau secara psikologis orang yang ikhlas akan memperoleh ketenangan jiwa, sederhananya, kecemasan itu berbanding lurus dengan ketenangan jiwa dan kejernihan pikiran, sehingga dapat dipastikan apa yang dikerjakannya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat buat dirinya dan orang lain, semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang ikhlas. Ikhlas, terletak pada niat hati. Luar biasa sekali pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal. Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.
Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisa dipertanggungjawabkan artinya. Selebihnya terserah Allah. Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qalbu. Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.
Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa. Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap. Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya.
Lalu, dimanakah letak kekuatan guru-guru yang ikhlas? Seorang guru yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang guru dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Murid akan merasa nyaman belajar dengan guru yang ikhlas. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia harapakan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun. Itulah sebabnya guru yang mampu menata hati untuk ihklas mampu lebih banyak membuat perubahan positif, itu yang menurut pendapat peribadi saya guru yang SMART. Semoga saya dan kita semua manpu menjadi orang yang ikhlas.
Keikhlasan Sebagai Guru
“Guru membina sahsiah dan membentuk nilai manusia melalui penjanaan modal insan. Oleh itu, kita sendiri tidak mungkin dapat membalas sepenuhnya jasa guru kita. Jasa guru akan terus bersambung selagi ada generasi yang ingin menerima ilmu. Sumbangan mereka tidak pernah putus.Sekali dia menjadi guru, selamanya dia akan dipanggil guru. Jika dulu dia adalah guru kita, mungkin sekarang dia adalah guru kepada keturunan kita. Tidak ada satu anugerah walau sebesar manapun dapat membalas jasa guru, hatta dibayar dengan segunung harta mahupun sejumlah wang ringgit membalas setiap ilmu yang diterima”–ceyh, itulah ayat sering kedengaran setiap masa kan? 
Besarnya ikhlas kepada orang yang beriman
Sebenarnya saya dan beberapa orang rakan lagi baru sahaja selesai menjalani program berasaskan sekolah (PBS) disebuah sekolah didaerah tumpat. Ya, memang agak seronok. Lagipun semua guru – guru disitu baik – baik belaka.Namun terlahir dibenak fikiran saya, adakah tugas guru itu kita jalankan secara ikhlas atau sekadar memenuhi tuntutan untuk mendapatkan gaji?Ada orang berkata: “Alah, buat apa susah-susah fikir fasal ikhlas ke tak ikhlas? Tak fikir langsung kan bagus? Buat pening sahaja. Asal kerja jalan sudah.”Ya. Mungkin kita nampak, ‘benda-benda tidak nampak’ ini melecehkan.Tetapi ikhlas hakikatnya adalah syarat utama mencapai ISO yang Allah tetapkan. Ikhlas menjamin kelangsungan kerja yang berpanjangan, kekuatan diri dalam melaksanakan amalan dan mempertahankan diri dari keputus asaan dan kekecewaan.Ikhlas ini besar kerana silap di dalam ikhlas, akan membawa kita ke pengakhiran yang berlainan. Ini terbukti apabila ‘niat’ dianggap sangat-sangat besar dan penting di dalam Islam. Lihatlah dalam apa kitab hadith sekalipun. Biasanya yang dimulakan adalah hadith berkenaan niat.
“Sesungguhnya setiap amal itu dikira dengan niat. Dan sesungguhnya setiap orang itu dengan apa yang diniatkan olehnya. Sekiranya dia berniat berhijrah kerana Allah dan rasulNya, maka dia akan berhijrah kepada Allah dan rasulNya. Tetapi sekiranya dia berniat berhijrah kerana dunia dan segala habuannya, atau kerana perempuan untuk menikahinya, maka dia akan berhijrah ke arah apa yang dia hendak hijrah kepadanya.” Hadith sohih muttafaq alaih.
Keikhlasan adalah penting. Besar kepada orang yang beriman yang berhajatkan redha Allah SWT. Yalah, sekiranya niatnya salah, maka redha Allah bukan berada dalam genggamannya. Sekiranya niatnya salah, maka segala amal adalah sia-sia dan tidak dikira.Maka mengapa perkara ini tidak diperhatikan?
Perhatikan Diri Kita
Maka kita perhatikan diri kita. Pada saat-saat pergeseran antara keinginan untuk ikhlas, dan keperluan yang mendesak datang. Maka di situlah kita ukur kualiti diri kita yang sebenar. Di situlah titik ujian dan muhasabah.
Apakah kita mampu untuk ikhlas?Apabila kita faham makna ikhlas, dan keperluannya dalam kehidupan kita sebagai hamba, maka kita akan berusaha menjaganya sebaik mungkin, dan berusaha mewujudkannya dengan kesungguhan yang tidak terkira.


Wednesday, 17 December 2014

BERJABAT TANGAN ADAKAH SUNAH NABI


Diantara akhlak islami yang mulia yang menghiasi diri kaum muslimin dan ternilai sebagai bukti atau diperkukuhkan persaudaraan sejati iaitu berjabat tangan tatkala berjumpa. Pertanyaannya, bagaimana peraturan Islam dalam berjabat tangan yang mendatangkan kebaikan itu ? Sudah benarkah praktik yang dilakukan oleh kaum Muslimin sekarang ini ? Ini perlu sekali untuk diketahui bersama, karana tidak beberapa lagi kita akan melaksanakan ibadah puasa yang diakhiri dengan hari raya Idul Fithri. Pada hari ini, biasanya berjabat tangan itu seakan sudah menjadi kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. 

Berikut pembahasan  berjabat tangan dalam Islam, hukum dan keutamaannya serta hal-hal yang terkait dengannya. 

HUKUM BERJABAT TANGAN DAN ASAL USULNYABerjabat tangan adalah sunnah yang disyari'atkan dan adab mulia para shahabat Radhiyallahu anhum yang dipraktikkan sesama mereka tatkala berjumpa.

Imam Bukhâri rahimahullah dalam kitab al-Isti'dzân dalam kitab Shahihnya memuat sebuah bab yang berjudul Babul Mushafahah (Bab: Berjabat Tangan). Dalam bab ini, beliau rahimahullah membawakan beberapa hadits yang menjelaskan sunnahnya berjabat tangan tatkala bersua, diantaranya :

عَنْ قَتَادَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسٍ أَكَانَتْ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ 

Dari Qatâdah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Saya bertanya kepada Anas (bin Mâlik) Radhiyallahu anhu , ‘Apakah berjabat tangan dilakukan dikalangan para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?’ Beliau Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya’ [1]

Dalam riwayat lain :

كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَلاَقَوْا تَصَافَحُوْا وَإِذَا قَدِمُوْا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوْا 

Adalah shahabat nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mereka bertemu, mereka saling berjabat tangan dan apabila kembali dari perjalanan mereka saling berangkulan .[2] 

Dan hadits Ka'ab Bin Mâlik Radhiyallahu anhu setelah turunnya taubat beliau, ia berkata :

دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ حَوْلَهُ النَّاسُ فَقَامَ إِلَيَّ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي

Saya masuk masjid (Nabawi) sementara Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang dalam keadaan duduk dan dikelilingi oleh manusia (para shahabat), lalu Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu anhu berlari ( kearahku) lalu beliau Radhiyallahu anhu berjabat tangan denganku dan memberikan ucapan selamat kepadaku. [3]

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa dalam hadits ini banyak terkandung faedah, diantaranya : "Disunnahkan berjabat tangan tatkala berjumpa. Ini merupakan sunnah yang tidak diperselisihkan."[4] 

Dari sebagian hadits diatas disimpulkan bahwa berjabat tangan tatkala bersua adalah sunnah yang disyari'atkan, sebagaimana yang dipertegas oleh para Ulama, seperti :

- Imam Ibnu Baththal rahimahullah yang mengatakan, "Berjabat tangan adalah kebaikan menurut seluruh Ulama." [5]

- Imam Nawawi rahimahullah yang juga mengatakan, "Berjabat tangan adalah sunnah tatkala bersua berdasarkan hadits hadits yang shahih dan ijma' para Imam." [6]

ASAL-USUL JABAT TANGANOrang-orang melakukan ini untuk kali pertama adalah penduduk Yaman yang terkenal dengan keimanan dan keilmuan mereka. Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengungkapkan : 

لَمَّا جَاءَ أَهْلُ الْيَمَنِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ وَهُمْ أَوَّلُ مَنْ جَاءَ بِالْمُصَافَحَةِ

Tatkala penduduk Yaman datang (ke Madinah) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, dan merekalah orang yang pertama sekali yang melakukan berjabat tangan." [7]

Dalam riwayat lain Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ عَلَيْكُمْ غَدًا أَقْوَامٌ هُمْ أَرَقُّ قُلُوبًا لِلْإِسْلَامِ مِنْكُمْ قَالَ فَقَدِمَ الْأَشْعَرِيُّونَ فِيهِمْ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَلَمَّا دَنَوْا مِنْ الْمَدِينَةِ جَعَلُوا يَرْتَجِزُونَ يَقُولُونَ : غَدًا نَلْقَى الْأَحــــِبَّهْ مُــحَمَّدًا وَحِـــزْبَهْ فَلَمَّا أَنْ قَدِمُوا تَصَافَحُوا فَكَانُوا هُمْ أَوَّلَ مَنْ أَحْدَثَ الْمُصَافَحَةَ

Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Besok akan datang kepada kalian kaum yang hati mereka lebih lembut untuk (menerima) Islam dari pada kalian.’ Anas mengatakan, ‘Maka datanglah kabilah Asy'ariyyun, diantara mereka ada Abu Musa al-Asy'ari. Tatkala mereka telah mendekati kota Madinah, mereka melantunkan sebagian sya'irnya seraya berkata, "Besok kita akan berjumpa dengan para kekasih, Muhammad dan shahabatnya". Tatkala mereka telah datang mereka berjabatan tangan, merekalah orang yang pertama sekali melakukan jabat tangan. [8]

BERJABAT TANGAN BUKAN HANYA KETIKA BERJUMPAUntuk diketahui bahwa berjabat tangan bukan diwaktu berjumpa saja, tetapi di syari'atkan juga tatkala berpisah, akan tetapi keutamaan nya tidak seperti tatkala berjumpa. 

Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata, "Sesungguhnya berjabat tangan (disyari'atkan) di waktu berpisah juga". 

Beliau rahimahullah menambahkan, "Pendalilan (tentang hal ini) hanya akan jelas dengan dalil disyari'atkannya mengucapkan salam tatkala berpisah juga, berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : 

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَجْلِسَ فَلْيُسَلِّمْ وََإِذَا خَرَجَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الأُخْرَى

Apabila salah seorang diantara kamu masuk majlis maka hendaklah ia mengucapkan salam, apabila ia keluar hendaklah ia mengucap salam, tidaklah yang pertama lebih pantas dari yang kedua", diriwayatkan oleh Abu Daud, at-Tirmizi dan yang lain dengan sanad yang hasan.[9] 

Jadi perkataan sebagian orang, "Sesungguhnya berjabat tangan tatkala berpisah adalah bid'ah" itu adalah perkataan yang tidak perlu dilihat. Benar, sesungguhnya orang yang memperhatikan hadits-hadits tentang (syari'at) berjabat tangan tatkala berjumpa, dia akan mendapatkannya lebih banyak dan lebih kuat dibandingkan dengan hadits-hadits tentang berjabat tangan tatkala berpisah. Orang yang paham, niscaya akan menyimpulkan dari hadits-hadits tersebut bahwa berjabat tangan yang kedua (tatkala bepisah) tidaklah sama hukum dan kedudukannya seperti yang pertama (tatkala bersua). Yang pertama adalah sunnah (yang sangat di anjurkan) dan yang kedua mustahab, adapun jika dihukumi sebagai bid'ah maka itu tidak benar, berdasarkan dalil yang kami sebutkan." [10] 

KEUTAMAAN BERJABAT TANGANBerjabat tangan memiliki keutamaan yang sangat agung dan pahala sangat besar. Berjabat tangan termasuk diantara penyebab terhapusnya dosa, sebagaimana dalam hadits :

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا 

Dari Barâ' bin 'Aazib Radhiyallahu anhu , ia berkata, "Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: tidaklah dua orang Muslim bersua kemudian mereka bedua saling berjabat tangan kecuali diampuni (dosa) keduanya sebelum mereka berpisah." [11]

Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَ أَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ

Sesungguhnya seorang Mukmin apabila berjumpa dengan Mukmin lainnya lalu ia mengucapkan salam kepadanya kemudian memegang tangannya dan berjabat tangan, maka berguguran (dihapuskan) dosa mereka sebagaimana daun pohon berguguran .[12]

ETIKA BERJABAT TANGAN1. Berjabat tangan dengan wajah yang berseri-seri Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, "Disunatkan dalam berjabat tangan dengan wajah yang berseri-seri. Berdasarkan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Janganlah kamu meremekan suatu kebaikkan apapun sekalipun hanya menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri". Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Dzar Radhiyallahu anhu [13], dan masih banyak hadits lainnya yang membicarakan tentang hal ini."[14] 

2. Berjabat tangan dengan satu tangan.Etika ini di ambil dari hadits yang memerintahkan untuk bermushafahah (berjabat tangan) karena itulah makna berjabat tangan secara etimologi.

Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata, "Memegang dengan satu tangan dalam berjabat tangan. Sungguh telah terdapat penjelasanya dalam banyak hadits, bahkan asal usul lafadz mushâfahah secara etimologi menunjukkan hal ini. Dalam kamus Lisânul Arab : "al-Mushâfahah" artinya memegang dengan satu tangan, dan begitu juga at-tashâfuh.

Dan mushafahah dalam hadits bermushafahah (berjabat tangan) tatkala berjumpa, termasuk dalam makna ini. Mushafahah adalah perbuatan yang saling melengketkan telapak tangan dengan telapak tangan dan wajah menghadap wajah (saling berhadapan)".

Kemudian beliau membawakan hadits Hudzaifah diatas tentang keutamaan berjabat tangan seraya berkata : "Seluruh hadits-hadits ini menunjukkan bahwa yang sunnah dalam berjabat tangan adalah memegang dengan satu tangan. Sedangkan apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang berjabat tangan dengan dua tangan adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah." [15]

3. Tidak membungkuk Saat berjabat tangan, karena ini dilarang dalam agama.Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata :

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ قَالَ نَعَمْ 

Seseorang bertanya, 'Wahai Rasûlullâh, salah seorang dari kami berjumpa dengan saudaranya atau temannya, apakah ia menundukkan punggung kepadanya?' Beliau menjawab, 'Tidak,' Apakah ia merangkul dan menciumnya ?' Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, 'Tidak,' Apakah ia memegang tangannya kemudian ia berjabat tangan dengannya?' Beliau menjawab, 'Ya" [16].Imam Nawawi rahimahullah mengatakan "Makruh hukumnya menundukkan punggung dalam segala kondisi bagi sesorang, berdasarkan hadits Anan di atas, "Apakah kami menundukkan punggung" Beliau n menjawab, "Tidak", dan tidak ada yang menyelisihi hadits ini. Dan jangan kamu tertipu dengan mayoritas orang yang melakukannya seperti orang-orang yang dianggap berilmu atau shâlih dan semisal mereka." [17]

BEBERAPA PERKARA YANG DILARANG DAN MENYELISIHI SUNNAH DALAM BERJABAT TANGAN1. Berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.Tidak diperbolehkan seorang lelaki berjabat tangan dengan wanita dan wanita berjabat tangan dengan laki laki yang bukan mahramnya. Sebagaimana dalam hadits : 

إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ 

Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita [18].

'Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata :

وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي الْمُبَايَعَةِ مَا يُبَايِعُهُنَّ إِلَّا بِقَوْلِهِ 

Demi Allâh,tidak pernah tangan Rasûlullâh menyentuh tangan wanita sama sekali dalam bai'at. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengambil bai'at (atas) mereka kecuali dengan perkataan .[19]

2. Waspadai berjabat tangan dengan al-amrad (anak muda  yang belum tumbuh jenggutnya). Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, "Dan hendaklah waspada dari berjabat tangan dengan al-amrad yang kacak, karena melihatnya tanpa ada keperluan adalah haram berdasarkan pendapat yang shahih." [20]

Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, "Dan di kecualikan dari keumuman perintah untuk berjabat tangan iaitu berjabat tangan wanita lain (bukan mahram) dan amrad (anak muda) yang kacak" [21]

3. Mengucapkan shalawat tatkala berjabat tangan. Kebiasan sebagian kaum Muslimin apabila berjabat tangan mereka mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak diragukan bahwa ini adalah perbuatan bid'ah yang tidak ada landasan dalam agama, karena mengucapkan shalawat adalah ibadah, dan tidak terdapat satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa diantara tempat bershalawat adalah tatkala berjabat tangan. Maka jelaslah bahwa ia adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah. Karena sekiranya hal itu adalah suatu ibadah dan kebaikkan maka tentu Rasul dan para shahabat yang akan lebih dahulu mengamalkannya.

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya "Jalâ’ul afhâm fi Fadhli ash-Shalât 'ala Khairil Anâm" menyebutkan empat puluh satu (41) tempat yang disyari'atkan bershalawat padanya, dan tidak satu dari tempat tersebut diwaktu berjabat tangan. Ini memperkuat pernyataan diatas bahwa bershalawat tatkala berjabat tangan adalah perkara yang bid'ah yang tidak ada landasannya dalam agama, wallahu a'lam. 

4. Berjabat tangan sesudah shalat antara makmum dengan imam atau antara para makmum.Amalan seperti ini tidak ada landasan dalam sunnah, tidak pernah dilakukan oleh rasul dan para shahabatnya, kecuali bila seseorang bertemu dengan teman atau saudaranya yang sebelumnya ia belum bersua, maka diperbolehkan baginya untuk berjabat tangan. Karena berjabat tangan disyari'atkan tatkala berjumpa sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Adapun sesama jama'ah yang setiap hari dan waktu berjumpa di masjid atau mushalla, maka tidak disyari'atkan untuk berjabat tangan setiap selesai shalat, karena perbuatan seperti ini adalah perkara bid'ah yang telah dingkari oleh para Ulama. 

Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Adapun tradisi berjabat tangan yang dilakukan oleh menusia sesudah shalat Shubuh dan Ashar maka tidak ada landasan atau asalnya dalam syari'at seperti ini" [22]

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, "Adapun berjabat tangan setelah shalat fardhu maka tidak diragukan bahwa ia adalah bid'ah, kecuali diantara dua orang yang belum berjumpa sebelumnya, maka ia adalah sunnah sebagaimana yang Anda ketahui." [23] 

Hukum ini pulalah yang di fatwakan oleh "Lajnah ad daimah" (komite fatwa di Saudi Arabia) seraya berkata, "Tradisi berjabat tangan setelah shalat fardhu antara imam dan makmum atau diantara para makmum, seluruhnya adalah bid'ah tidak ada landasannya. Oleh karena itu, wajib ditinggalkan, karena sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada landasan dari perintah kami maka tertolak" [24], dan adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat bersama para shahabatnya, begitu juga para khalifah sepeninggalnya, mereka shalat bersama kaum Muslimin, namun tidak dinukilkan keterangan tentang rutinitas berjabat tangan setelah shalat. Padahal, sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perkara adalah yang baru, dan setiap perkar yang baru (dalam agama) adalah bid'ah dan setiap yang bid'ah adalah sesat" [25].

KesimpulanDemikianlah pembahasan singkat tentang hukum berjabat tangan dalam Islam, dari apa yang diutarakan bisa disimpulkan beberapa poin berikut :

1. Berjabat tangan disyariatkan tatkala berjumpa dan berpisah, sekalipun kedudukannya tidak sama dengan waktu berjumpa.2. Berjabat tangan merupakan adab dan akhlak para shahabat sesama mereka tatkala bersua.3. Berjabat tangan diantara sebab pengampunan dosa.4. Tidak diperbolehkan berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.5. Tidak disyari'atkan mengucapkan shalawat tatkala berjabat tangan, karena tidak ada dasarnya.6. Berjabat tangan setelah shalat adalah ritual yang bid'ah, kecuali antara dua orang yang belum bertemu sebelumnya.

Semogah Allâh Azza wa Jalla senatiasa membimbing kita dan seluruh kaum muslimin untuk mempelajari sunnah dan mengamalkannya serta menghiasi diri kita semua dengan ahklak islamiyah karimah, Amiin.


Tuesday, 16 December 2014

HUDUD  DARI PERUNDANGAN SYARIAH
Hudud berasal daripada perkataan 'had' yang membawa maksud mencegah,menyekat atau halangan.Hudud merupakan hukuman tertentu terhadap sesuatu perbuatan yang telah ditetapkan oleh Allah dan wajib dilaksanakan untuk menjaga hak Allah dan kepentingan masyarakat awam. Seringkali kita terdengar perbalahan mengenai hudud di mana-mana sahaja.Oleh yang demikian,bagi memberikan gambaran secara jelas kepada golongan menimbulkan pelbagai polemik apabila Kelantan yang menjadi negeri pertama yang akan melaksanakannya selepas Enakmen Kanun Jenayah Syariah (II) 1993 Kelantan diluluskan. Sejak 1993 apabila kerajaan
Kelantan mula memperkenalkan Kanun Jenayah Syariah, Kelantan telah menubuhkan jawatankuasa yang berperanan memberi aspek penerangan kepada orang ramai tentang bagaimana hendak ‘memperundangkan’ ia melalui falsafah hudud daripada segi syariah secara menyeluruh dan sebagainya . Jadi jawatankuasa itu setiap tahun berseminar mengenai hudud di Kelantan dan dijemput keluar untuk memberikan seminar. Tetapi setelah beberapa lama usaha itu disempurnakan dan disiapkan perundangan itu, satu perkara yang menyebabkan terhalang undang-undang di peringkat pusat, apa yang dinamakan sebagai Akta Mahkamah Syariah 1965.
 Itu dianggap sebagai undang-undang yang memberikan batasan di peringkat negeri jika hendak digubalkan, tidak boleh daripada enam kali sebatan, tiga tahun penjara dan lima ribu ringgit denda. Dan oleh kerana undang-undang jenayah syariah Kelantan, hudud itu berasaskan kepada qisas dan sebagainya, perundangan itu melampaui had yang ditetapkan. Maka ia dianggap bercanggah dengan peruntukan Federal. Perkara ini muncul semula apabila perdebatan di Parlimen persoal tentang peruntukan 635 ini iaitu Akta Mahkamah Syariah 1965. Dengan cara ini perundangan ini dapat dilaksanakan. Tetapi entah macam mana perkara ini ditukar kepada Private Bill.

Perkara ini masih di bawah perbincangan, dan bagaimana hendak dibawa dan ia telah diputuskan. Kemudian timbul isu sama ada boleh diamallkan atau tidak perundangan hudud ini daripada sudut infrastruktur iaitu mahkamah, mahkamah rayuan, hakim yang pakar dalam kes yang melibatkan hudud serta peguam-peguam yang mahir. Perkara-perkara itu sentiasa menjadi penghalang sehingga pelaksanaan itu tidak dapat dibuat. Ini termasuklah polis dan penjara. Jika rang undang-undang ini tidak dihasratkan untuk dibentangkan, maka sampai bila-bila pun rakyat negara ini tidak akan membincangkannya secara terbuka. Kebimbangan dari pelbagai aspek secara munasabah, perlu diambil kira. Walau bagaimanapun, kebimbangan itu tidak seharusnya bertujuan untuk menafikan hudud sebagai sesuatu yang perlu menjadi cita-cita dalam undang-undang negara. Sebagai rakyat yang beragama Islam, ia mesti menjadi sebahagian daripada tanggungjawab yang perlu dilaksanakan, menurut kepada kapasiti masing-masing.Perlu juga difahami bahawa hudud adalah perintis kepada Undang-undang Islam. Selepasnya, “qisas”, “diat” dan “takzir” pula akan menyusul. Jika ia berjaya memberi makna kepada kehidupan masyarakat di negara ini, sudah tentu rangkaian Undang-undang Islam lain akan jauh lebih mudah untuk diterima. Sekalipun, kemungkinan untuk ia dilaksanakan bukan pada ketika hayat kita.


motivasi diri

Untuk berjaya dalam hidup, motivasi diri boleh dikatakan suatu keperluan. Kita mesti tahu bagaimana untuk memotivasikan diri kita. Kita juga perlu mempunyai semangat yang tinggi walau dalam keadaan seteruk mana pun. Sesiapa yang kehilangan semangat ketika melalui situasi yang sukar akan berdepan dengan kekalahan walaupun perjalanannya belum pun berakhir.

Persoalannya disini, bagaimana cara untuk mendapatkan motivasi diri. Disini ada diberikan sedikit tips motivasi diri yang sedikit sebanyak diharap boleh membantu anda dalam mengharungi kesulitan mahupun kesukaran dalam perjalanan kehidupan.Artikel motivasi ini membincangkan tentang apa yang perlu ada dalam diri untuk sentiasa bersemangat dalam mengejar cita-cita.

Tahu Tujuan

Tiada sumber motivasi yang lebih kuat untuk anda berjaya dari tujuan anda melakukannya. Tujuan anda adalah inspirasi terbaik untuk memberi perangsang dalam menghadapi kesulitan di kemudian hari. Ia akan dapat membantu anda melakukan perkara-perkara yang dilihat mustahil  pada pandangan manusia normal. Bila anda fikir anda sudah tiada semangat untuk meneruskan perjalanan, ingat balik tujuan anda melakukannya dan motivasi itu akan kembali kepada anda serta merta.

Tetapkan Impian atau Matlamat.

Tujuan anda untuk berjaya merupakan sumber motivasi yang kuat tapi masih belum cukup untuk merealisasikan apa yang anda mahukan. Anda perlu ada impian atau matlamat. Anda perlu bayangkan apa yang akan berlaku pada anda apabila anda berjaya mencapai tujuan anda. Memiliki impian sangat penting sebab sangat susah untuk bermotivasi jika anda tiada matlamat yang khusus.  Bayangkan pemain bola sepak. Adakah mereka akan bermotivasi jika tiada pintu gol untuk dijaringkan? Mereka memerlukan matlamat. Begitu juga anda. Matlamat atau impian yang ditetapkan mestilah cukup besar untuk menginspirasikan anda. Ia harus realistik dan mencabar untuk mengeluarkan anda dari zon selesa yang anda duduki sekarang ini. 

Mempunyai Keinginan Yang Kuat

Untuk benar-benar mendapat motivasi diri yang jitu, anda mesti mempunyai keinginan yang kuat. Ini akan membantu anda ketika melalui situasi-situasi yang sulit dan memastikan anda berusaha untuk melakukan prestasi yang terbaik walau dalam apa jua keadaan sekalipun. Jika anda berasa seperti keinginan anda semakin pudar, apa yang perlu anda lakukan ialah untuk  melihat kembali kepada impian dan matlamat anda. Ini akan memberikan motivasi kepada diri anda dan meningkatkan lagi rasa keinginan anda.

 

 

Tetapkan Haluan Sendiri

Membandingkan diri anda dengan orang lain biasanya akan mengurangkan keyakinan anda. Walaupun anda pada mulanya bersemangat, lama-kelamaan anda mula terasa kekurangan diri jika dibandingkan dengan orang lain. Elakkan ini terjadi kepada anda. Anda mempunyai matlamat sendiri dan apa yang orang lain kecapi tidak perlu dibandingkan dengan diri anda. Setiap orang mempunyai perjalanan hidup dan keadaan yang berbeza.  Membandingkan diri anda dengan orang lain adalah seperti membandingkan prestasi seorang perenang dengan seorang pelari menggunakan standard masa yang sama. Mereka berdua dalam situasi yang berbeza jadi ianya adalah tidak relevan untuk membandingkan kedua-dua orang ini. 

Berani Meneruskan Perjalanan

Apabila anda bertemu dengan cabaran dalam perjalanan anda untuk berjaya, anda mungkin cenderung untuk menghentikan perjalanan itu. Anda mungkin berfikiri bahawa ia terlalu sukar untuk diteruskan. Tetapi, ini sebenarnya adalah saat dimana anda boleh melihat perbezaan antara seorang yang menang ataupun seorang yang kalah. Meskipun kedua-duanya menghadapi kesulitan yang sama, tetapi satu perkara yang membezakan adalah keberanian untuk meneruskan perjalanan itu. Jika berhadapan dalam situasi yang sukar, fokuskan pemikiran anda untuk meneruskan langkah kehadapan. Jangan berfikir bagaimana untuk menyelesaikan perlumbaan atau berapa banyak lagi cabaran yang akan ditempuhi. Tetapi, hanya fokus untuk mengambil langkah yang seterusnya.

Lupakan Masa Silam

Percaya atau tidak, salah satu pemusnah motivasi diri anda adalah masa silam anda sendiri. Ia boleh memberi beban yang berat diatas bahu yang perlu anda pikul. Walaupun begitu, ia adalah sesuatu yang boleh anda tinggalkan. Anda mungkin membuat kesalahan pada masa lalu. Anda mungkin telah mengecewakan orang lain dengan apa yang anda lakukan. Tapi itu semua sudah berlalu. Ia adalah sesuatu yang tidak dapat anda ubah lagi hakikatnya. Hari ini adalah hari yang baru dan anda sentiasa mempunyai peluang untuk memulakan semula hari anda. Tidak kira seteruk mana masa silam anda, masih ada masa depan yang cerah menanti jika anda berani meneruskan perjalanan.

 

Sekian, semoga tips motivasi diri yang diberikan diatas boleh membantu anda untuk mengecapi kejayaan dalam hidup. Tidak kira sesusah mana pun cabaran yang dihadapi, teruskan usaha anda, berdoalah untuk mendapat yang terbaik, dan bertawakal kepada Allah.


 

Monday, 15 December 2014

Adakah sistem muamalat telah wujud sejak dari zaman Nabi Muhammad SAW lagi? Bincangkan.

Sebagai umat Islam, kita sentiasa digalakkan agar mencari harta kekayaan dengan cara yang baik dan diredhai oleh Allah SWT. Oleh itu, kita haruslah mengamalkan akhlak-akhlak yang mulia dalam menjalankan urusan muamalat dengan pihak yang lain seperti bersifat amanah, adil, jujur, ikhlas dan
sebagainya. Dalam menjalankan sesuatu kegiatan perniagaan yang dapat memberi faedah kepada seluruh manusia, kegiatan-kegiatan tersebut hendaklah berteraskan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan menurut Syariat Islamiah. Keimanan kepada Allah SWT merupakan benteng untuk menghalang seseorang daripada melakukan perkara-perkara yang tidak diingini dan dilarang keras oleh agama Islam. Oleh itu, dalam topik ini kita akan berbincang mengenai peranan asas muamalat dalam syariat Islam yang harus dijalankan agar ia dapat menjalinkan hubungan baik sesama umat manusia. 

Pada bahagian ini, kita akan bincangkan tentang penglibatan Nabi Muhammad SAW dalam dunia keusahawanan sehingga menjadi seorang ahli korporat yang berjaya serta diberi gelaran Âl-Amin oleh masyarakat tempatan.Muamalat (perniagaan) merupakan satu-satunya mata pencarian terpenting bagi penduduk Makkah. Rasulullah SAW yang berasal dari keturunan Quraysh yang giat dalam perniagaan juga tidak terlepas dari dunia perniagaan. Kalau kita tinjau sepintas lalu isi kitab Sahih al-Bukhari (kitab himpunan Hadis), terdapat lebih daripada 500 hadis Rasulullah SAW yang menyentuh tentang perniagaan. Disamping itu, kitab-kitab sejarah seperti Mukjam al-Buldan telah mencatatkanperistiwa-peristiwa pengembaraan Rasulullah SAW berniaga ke negara-negara jiran.Baginda sendiri menganggap perniagaan sebagai sumber rezeki yang paling luas Setelah wafat datuk baginda Rasulullah SAW, Abdul Muttalib, baginda tinggal dan dipelihara oleh pakciknya, Abu Talib yang juga terkenal sebagai peniaga yang profesional. Pada usia 12 tahun, buat pertama kali Rasulullah SAW telah terlibat secara langsung dengan dunia perniagaan apabila pakciknya membawa
baginda ke Syria untuk berniaga. Meskipun usianya amat muda, namun Rasulullah SAW tidak merasa gentar malah baginda amat seronok membabitkan diri dalam bidang yang mencabar ini. Sewaktu Abu Talib mengetuai rombongan perniagaan itu beliau meyakinkan teman-temannya bahawa Rasulullah SAW tidak akan menambah beban malah akan lebih banyak menolong dalam perniagaan mereka itu.Oleh kerana Rasulullah SAW dipelihara dan dibesarkan dalam keluarga peniaga,maka pengetahuannya tentang perniagaan terus meningkat. Apabila baginda sudah agak dewasa dan pakciknya pula mula uzur kerana umur dan tanggungan yang banyak, maka baginda dengan tidak teragak-agak memulakan perniagaannya sendiri dengan membeli barangan dari sebuah pasar dan diniagakan di pasar-pasar lain. Peristiwa ini membuktikan bahawa Nabi Muhammad SAW telah memulakan perniagaan lebih awal dari masa beliau bertunang dan terlibat dengan perniagaan isterinya yang pertama Saidatina Khadijah RA (Sabri Salamon, 1992). 
ngatlah akan firmaNnYA TENTANG MANUSIA:

1) Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Al-Isra’.11)

2) “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Baqarah 155)

3) “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28)

4) “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Q.S Al Ma’arij : 20)

5) “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Q.S Al-Fushshilat .49)

6) “Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa” (al-Isra’ 83)

dan Maha Benar Allah, 

7) "Dan kami jadikan sebahagian kamu sebagai cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.
[Al-Furqan :20]"

Setiap kelemahan manusia yang Allah firmankan dalam Alquran, ada penawarnya ada jalannya Allah tunjukkan, seperti contoh

Untuk ayat 20 sural Al Maarij balance bagi keluh kesah adalah dari ayat 22 hingga ke 35 surah Al Maarij. 

Begitu juga Al Baqarah ayat 155 ada neutralizer/ antidote nya, dan indah sekali apabila di ajarnya pula bila di timpa malapetaka untuk mengucapkan pula

 " Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali." (Al Baqarah 156). Di tambah kan sedap nya lagi dengan sabda nabi dengan doa "Ya Allah, berikanlah kepadaku pahala dalam musibah ini, dan gantikanlah aku dengan yang lebih baik daripadanya". 

Begitulah kesedihan UMMU Salamah  yang kematian suami tercinta Abu Salamah, dengan yakinnya mempraktikan 2 cara seperti di atas dalam menghadapi musibah, Subhanallah beliau mendapat Rasul Akhir Zaman sebagai gantinya sang suami tercinta yang telah pergi. Subhanallah Allah Hu Akbar.

Jadi untuk berdukacita atau bersedih itu lumrah manusia, tapi ada adab dan tatacaranya saudari dan Insyallah ianya membawa kepada jalan yang menenangkan hati dan ketenteraman jiwa.

Selain dari surah Al Baqarah 156 dan doa nabi yang disebut, ada lagi satu dari pengalaman sendiri ketika menghadapi ujian2 berat ini.

Bacalah Al - quran, dan bukan sekadar baca, tapi hayatilah dan fahamilah isi kandungannya( sekarang banyak tafsir), kita boleh menangis dibuatnya, kerana sekira penghayatannya betul, saudari seolah merasakan bahawa Allah swt sedang berbicara dengan saudari, menasihati saudari dan memujuk saudari dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. 

Benarlah akan firmanNYa 

" Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Al-Quran yang menjadi nasihat pengajaran dari Tuhan kamu, dan yang menjadi penawar bagi penyakit-penyakit batin yang ada di dalam dada kamu, dan juga menjadi hidayah petunjuk untuk keselamatan, serta membawa rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus, ayat 57) "

Bersama2 lah kita ingat mengingati. Mudah mudahan Allah swt memberi petunjuk dan hidayah pada saudari dan kita semua buat menongkah hari hari yang mendatang. Amin Robbil Alamin. Jazakallah.